AL-QURAN

AL-QURAN
bukan sekadar bacaan berpahala,..

Nasehatnya...

Nasehatnya...
Mudahan mendapat Keredhaan Ilahi...

ilmu yang dianugerahkan, dan milikNya .

ilmu yang dianugerahkan, dan milikNya .
seumpama setitik air di tengah lautan

Selasa, 9 Februari 2010

Tesawuf dan tariqat satu pengenalan dan kepentingan beramal dgnnya..

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dengan nikmat kurniaanNya..

Alhamdulillah syukur.. Kebenarannya ..

Di dalam Suhuf Nabi Ibrahim as ada menyebut: " Hendaklah orang yang beraqal yang tidak ditewaskan oleh aqalnya mempunyai beberapa masa; bermunajat dengan Tuhannya, muhasabah dalam dirinya, bertafakkur mengenai keajaiban dengan kejadian Allah swt dan masa di kosongkan bagi menunaikan hajatnya daripada makan dan minum."

Sekiranya kita tidak mengenali Ilmu Tauhid ini, maka sudah tentunya kita tidak akan tahu sampai di mana perjalanan Tesawuf dalam menuju Tareqat, Hakikat seterusnya ma'rifat.

Rentetan inilah, jalan mahupun pejalan kerohanian akan terhalang, terdepedaya, terjebak jika kita tidak mengetahui keadaan Allah secara Ilmu..

Jadi bekalan sewajib dan sebaiknya ialah mempersiapkan Ilmu, berguru, kerana kita akan kecundang di pertengahan mahupun persimpangan jalan.. andainya kita memasuki dunia Ketuhanan bukan secara total..

Haqikatnya..Inilah penggambaran bahwa alam haqikat itu tidak mampu dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit, kerdilnya maqhluk yg bernama manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit.

Ma'rifatnya..secara umum fikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan ( memberikan persepsi ) atas keadaan haqikat kecuali kita mampu " memfanakan " diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan fikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia.

Selama ini kita hanya mengira atau menyangka ( dzhan ) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu mampu kita rasakan gengan IzinNya dan RahmatNya Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk menggambarkan kenyataan kasih sayang Allah..

Mari kita ambil pendekatan serta pandangan dari sisi ini, dengan dua pertanyaan mudah....

1) Apakah semestinya di dalam ajaran Tesawuf para pencinta keruhanian, penuntut, harus melalui tingkatan ( martabat ) demi untuk mencari dan menuju Ketuhanannya ??.. yang biasa dikenal dengan beberapa ajaran serta amalan-amalan tertentu yg terdapat di sesetengah aliran tariqat, hakikat seterunya ma'rifat..??

2) Kemanakah mahu di bawa setiap ilmu, ajaran serta amalan - amalan tersebut..??

Pada pandangan peribadi saya..,

Istilah tariqat.., tidak pernah dikenal pada masa Baginda Mulia Rasulullah saw, Beliau tidak mengajarkan secara khusus. Namun setiap ajaran serta amalan didalam tasawuf merupakan perkembangan dari ilmu tauhid, menjadi pembahasan yang mengacu kepada dasar yang telah di bawa dan diajarkan oleh Baginda Mulia Rasulullah saw.

Kedudukan ilmu ini sama halnya dengan mempelajari ilmu fiqh, ushul fiqh, filsafat, ilmu dirayah hadith, riwayah hadith, ilmu Al-Qur’an dan ilmu tafsir ( ilmu-ilmu ini tidak pernah diajarkan oleh Baginda Mulia Rasulullah saw secara khusus ).

Maka dengan demikian kita boleh menerima apa yang datang dari gagasan para Imam besar, Ulama' masyhur, guru mursyid, Prof., ataupun sesiapa sahaja yg berilmu selama tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al hadith ( Sunnahnya ).

Andaikata apabila kita tidak begitu setuju dengan pendapat, pandangan, ajaran mahupun amalan dari mereka yg tersebut, sebaiknya kita jadikan ilmu tersebut sebagai wacana keilmuan Islam yang hebat dan makin berkembang ..seperti FirmanNya " Katakanlah " Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (di tulis ) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). Katakanlah "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang di wahyukan kepadaku; " Bahawa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." ( QS Al Kahfi : 109-110 ).

Bukan untuk di adu debat atau yang lainnya, tetapi semata-mata karena kita perlu wacana untuk kebaikan kita berfikir, mengawal perjalanan keruhanian kita lebih baik dan terbaik setelah mengerti Dzat dan arah beragamanya kita, bukan lagi terperuk dalam retorika ilmu tauhid yang tidak ada habisnya.

Maka itu di nasehatkan buat diri saya sendiri dan juga ikhwan muslim sekeliannya, mari kita jalani sampai memasuki hakikat yang sebenarnya, mana yg baik, dan mana yg logik menurut tingkatan pemahaman diri kita sendiri, kita juga disarankan supaya memiliki wawasan ketuhanan yang baik agar kita tidak mudah taqlid kepada sesiapa yang mahu atau cuba menyelewengkan ajaran dan amalan ini.

Begitu juga agar kita tidak mudah menjadi ego menurut satu pendapat sahaja. Setelah kita tahu pendapat orang lain, maka kita akan mengambil kesimpulan bagaimana kita seharusnya bersikap dengan arif, tanpa merendahkan, memandang hina ataupun cuba melecehkan pendapat yang masih belum sampai ketingkat yang lebih baik di antara terbaik.

Kesadaran ketuhanan ini jarang sekali dipahami oleh masyarakat kita dengan baik, karena sudah di salahtafsirkan serta dimanupulasikan dgn alam kredo yg menakutkan, membingungkan, kesesatan dll, bahwa kita tidak boleh langsung kepada Tuhan. Karena Tuhan itu suci, maka harus melalui perantaranya,..Firman Allah SWT " Katakanlah " Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, ( mengharamkan ) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan ( mengharamkan ) mengada-ngadakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui ". ( QS Al A'raaf: 33 ).

Banyak orang hanya dibawa ke alam intelektualnya, bukan kealam spiritualnya, sehingga mustahil ia akan sampai kepada Allah jika hanya sebatas gagasan di dalam fikiran.. ! Tapi bagi Allah tiada mustahilnya.. di atas IzinNya dan RahmatNya...

Firman Allah SWT " Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemuiNya.( QS Al Insyiqaaq : 6 ) .

Tersurat sudah janjiNya, tersirat pula keyakinan dan usahanya diri kita..tersembunyi Pertunjuk dan hidayahNya..

Insya Allah, Allah akan merahmati kita selama kita tetap berusaha sungguh-sungguh mencari yang lebih baik..

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dengan segala ciptaan kurniaanNya..

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Membaca dan menulis adalah kunci ilmu pengetahuan...tiada batasan buat yg berilmu ataupun orang awam, hari ini kita sering diserang habis-habisan akibat dari pemikiran umat kita juga, sehinggakan kretiviti dan inovasi pemikiran dan kajian di sentak teruk tanpa mengikuti terlebih dahulu fakta serta kebenarannya dengan alasan takut, bida'ah atau sesat...

Seperti kata arwah Pak Hamka " Ingat takut dan dukacita mahupun putus asa menjadi penghalang besar buat kemajuan hidup kita.." .

..Keyakinan seseorang itu akan mudah terlepas dan selalu dalam keraguan, kelonggaran apabila kebanyakkan kita hari ini seolah-olah dipaksa utk terus percaya terhadap sesuatu amalan, mahupun ajaran serta keyakinan, tanpa pernah memahami mengapa kita harus meyakininya...??

Tidak pernah terlintas lansung, malah bersyukur dan berterima kasih pada perintis ataupun pendahulu kita yang telah banyak berkorban meredah jalan suci, mengungkapkan keagungan dan keunikan serta kebenaran Islam mentauhidkan Allah swt...berbanding dgn keadaan kita hari ini, saat ini ??

Imam Ghazali dalam menamakan pengertian ini sebagai pengertian " awwali ". Dari mana pengertian-pengertian tersebut di perolehi, sebagaimana ucapan beliau " Fikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dgn aman serta yakin dapat menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari aqal itu. Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan, melainkan dengan Nur ( cahaya ) yang di pancarkan Allah swt ke dalam batin dari Ilmu ma'rifat " ( dalam buku Pembebasan dari kesesatan, halaman 10)..

Bukan soal mahu menempuh jalan lain Tuan..tidak egokah kita andai mempertikaikan pada orang-orang yang di pilih Allah sesuai dgn jiwanya untuk menuju kepadaNya...

Banyak orang mengajar ilmu kpd muridnya, namun ia tidak mampu memberikan kefahaman, begitu juga banyaknya majlis pembersihan jiwa, namun ia tidak mampu membersihkan jwanya..??

Harapan begitu tinggi dan mendalam terhadap keinginan sebenarnya agar risalah dan khazanah keIslaman dijalankan, disebar dan disambungkan melalui gerakan jiwa yg luas dan bersih. Di atas IzinNya dan RahmatNya, Keinginan ini akan tercapai dgn menyedari akan nilai spiritual yang tinggi, sebab kesedaran adalah modal yg terbaik untuk mencapai sesuatu, bukan dgn emosi dan cemuhan terhadap pandangan serta pendapat mahupun karya org lain, lalu memusuhinya tanpa jelas perkaranya. Begitu juga hanya dgn berdzikir kpd Allah hati menjadi tenang..sehingga melahirkan pendapat dan pandangan yg bermanfaat serta berperilaku mulia..

" Epistimology " Ibnu Taimiyah tidak mengizinkan terlalu banyak intelektualisasi, termasuk interpretasi...beliau menegaskan bahawa pangkal iman dan ilmu ialah ingat ( dzikir ) kpd Allah, Ingat kpa Allah memberi Iman dan ia adalah pangkal iman pangkal ilmu.( dlm Minhaj Al-Sunnah, jilid 4, halaman 237 )..

Kita tidak boleh mengubah, dan jangan sama sekali cuba membuat syariat baru, baik dari segi akidah mahupun dari fikih masyur yg empat ( mazahibul arba'ah, madzhab Imam Maliki, Hambali, Hanafi, dan Syafi'ie, akan tetapi jestru kita di ajak berjalan dan cuba memasuki lebih dalam sampai ke lubuk hati , tanpa merubah syariat yang telah sedia ada, Dzikir dan solat yg sudah di nash kan oleh Allah swt itulah yg kita ikuti..

Mari kita renung firmanNya " ..Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal soleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.." Al Kahfi : 110.

Di dalam Al Hikam, salah satu kitab yg sangat mantap ajaran Tauhidnya..Didalamnya tertulis pendapat Al Junaid mengenai ajaran Tesawuf ;

- Mengenal Allah, sehingga antaramu dgn Allah tidak ada perantara ( hubungan dengan Allah tanpa perantara )..

- Melakukan semua akhlaq yg baik menurut sunnaturrasul danmeninggalkan semua akhlaq rendah..

- Melepaskan hawa nafsu menurut kehendak Allah..

- Merasa tiada memiliki apa pun, juga tidak dimiliki oleh sesiapaun kecuali Allah..

Adapun menfaatnya: mendidik hati sehingga mengenal akan Dzat Allah, sehingga berbuah kelapangan dada, bersih hati dan berbudi pekerti yg luhur dlm menghadapi semua makhluq...

Agama sebagai kekuatan ruhani sudah hampir kabur sinarnya, kerena kebanyakkan pembawanya lebih banyak suka mengumpul data dan berkata dari pada berbuat...

Para Rasul, Nabi, di perintahkan utk mengajak umat buat kembali kpd Allah, berdekatan dgnnya, serta di perintah untuk bersikap " Ihsan ".. dan " Iyyaka na'budu wa iyya kanasta'iin "..kepada Engkau kami menyembah dan kepada Engkau kami memohon pertolongan ( tuntunan ).

Wahai ikhwan muslimin, keluarlah kamu dari diri kamu, dari rumahmu, pandanglah semesta alam, kamu akan tahu siapa itu Allah..Dialah Tuhan semesta alam..Rabbul 'alamin, Di atas IzinNya dan RahmatNya, engkau akan melihat fitrah Allah yg harus di patuhi..Itulah agama Allah yg lurus.

mari kita merenung akan FirmanNya " Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya supaya kamu mendapatkan keberuntungan " ( Al Maidah : 35 )..

mudahan pengertian perjalanan keruhanian menuju lautan cinta dan kasih sayang Allah, yg di paparkan semua kita di sini dapat menyatukan walaupun berbeza tetapi dalam satu kesamaan ( Tauhid )..Kaannahum bunyanun marshush.

Mudah-mudahan Allah memberi petunjuk serta hidayahNya kepada kita semua.." Iyyaka na'budu wa iyya kanasta'iin "..

Amin..wallahu'alam.

Hati..

Kesulitan hati dalam merasakan nikmat dari Allah swt, sentiasa mensyukurinya berupa kelazatan iman, cemerlangnya hati, kekhusyu'an serta berbuat baik, disebabkan ada bisikan pembimbing yang setia setiap saat dalam melakukan kekejian dan kemungkaran, yaitu syaitan laknatullah.

Hati kita menjadi keji tanpa harus melalui proses berfikir, rasa jahat itu akan muncul seketika dalam hati dan merasakan sulitnya berbuat kebajikan.

Sebagaimana FirmanNya dalam Al Qur'an " Barang siapa yang berpaling dari dzikir kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya syaitan ( yang menyesatkan ) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya ". ( QS Az Zukhruf : 36 ).

Mari kita ambil dua penyataan kebenaran di antara fungsi hati dan dzikir..

Imam Al Qusyairi mengatakan: "Jika seorang hamba berdzikir dengan lisan dan hatinya, berarti dia adalah seorang yang sempurna dalam sifat dan tingkah lakunya."

Dzikir kepada Allah bermakna, bahwa manusia sadar ( Ihsan ) akan dirinya yang berasal dari Allah, yang senantiasa mengawasi segala perbuatannya.

Dengan demikian manusia mustahil akan berani berbuat curang dan maksiat dihadapan-Nya. Dzikir berarti kehidupan, karena manusia ini adalah makhluq yang akan binasa ( fana ), sementara Allah senantiasa dan Maha hidup, melihat, berkuasa, dekat, dan mendengar, sedangkan menghubungkan ( dzikir) dengan Allah, berarti menghubungkan dengan sumber Maha Hidup ( Al Hayyu ).

Sabda Baginda RasulAllah saw " Perumpamaan orang yang berdzikir dengan orang yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dengan orang yang mati." ( HR. Bukhari )...

Itulah gambaran dzikir yang diajarkan oleh Baginda Mulia Rasulullah Saw. Bahwa dzikir kepada Allah itu bukan sekadar ungkapan sastra, nyanyian, hitungan-hitungan lafadz, melainkan suatu hakikat yang diyakini didalam jiwa dan merasakan kehadiran, Kekuasaan, Keagungan serta Kebesaran-Nya Allah di segenap masa dan keadaan, serta berpegang teguh dan menyandarkan kepada-Nya hidup dan matinya hanya untuk Allah semata-mata.

Maka itu, tidak ada kemuliaan yang lebih tinggi dari pada dzikir dan tidak ada nilai yang lebih berharga dari usaha menghadirkan Allah dalam hati, bersujud karena keagungan-Nya, dan tunduk kepada semua perintah-Nya serta menerima setiap keputusan-Nya Yang Maha Bijaksana..

Al Qur'an telah banyak mengungkapkan tentang apa itu yang bergelar qalb ( hati ) sebenarnya, namun pengungkapan nya tidak akan menjadi suatu kesedaran, apabila fikiran dan perasaan jiwa kita tidak pernah dibawa ke alamnya secara nyata.

Dari penjelasan di atas Ummi, Tuan dol dll yg di hurmati, dapat kita simpulkan bahawa kecintaan terhadap perbuatan keji dan mungkar itu hanya dapat diatasi dengan membawakan hati tersebut selalu teringat kepada Allah serta mengihklaskan hati kita hanya untuk Allah.

Firman Allah swt
" Dan sebutlah ( nama ) Tuhanmu dalam hatimu (jiwamu) dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai." ( Qs Al A'Raaf:205 )

Sedikit penambahan buat pertanyaan sesama kita, ini bukannya utk di perdebatkan..sekadar perkongsian ataupun merupakan nilai ukuran untuk bermuhasabah...merasakan keindahan keimanan kita...

FirmanNya “ Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang apabila di sebut nama Allah gementarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka ( kerananya ), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. “ ( Al Anfaal : 2 ).

Rasa bergementarkah hati kita apabila menyebut nama Allah..??, jawapan bagi pertanyaan ini tidak perlu untuk di paparkan ( rasa ) mana mungkin dapat di olahkan dengan sekadar huruf dan kalimat..tetapi di saat pertanyaan ini tersoal, hati sudah tahu kebenaran, kejujuran bagi jawapan tersebut...dan Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hatimu...

Kiranya cukup Allah sahaja yang dapat menilai gementar, rasa ketaqwaan, kecintaan hati kita kpdNya.

Kemunafikan, kepura-puraan, hipokrit, kekafiran, kesombongan dll yg sewaktu dgnnya bersekongkol dgn hawa nafsu, semua ada disini..sikap dan perasaan ini cuba mengawal dan bermaharajalela, tetapi dapat di tewaskan dgn rasa keimanan yg muncul dan terbit dari hati dan bukannya dari sekadar gagasan fikiran...

Kita berjuang kpd sebuah peperangan yg kalah, andainya hati kita tidak mendapat pertunjuk dari Rabb-nya dan di atas Izin dan RahmatNya jua, dan itulah Allah berfirman dan menyeru “ wahai jiwa yang tenang “ dan bukannya “ wahai fikiran yang tenang “...

Kita mampu menganalisa, mengkaji serta menghuraikan contoh reaksi bahan-bahan campuran kimia sampai menjadi ia erti gula, tetapi kita tidak ada kemampuan membuat rasa manis yg terkandung pada gula tersebut..bahkan kekadang kita sendiri belum mampu dapat merasai manisnya gula atas sebab musabab tertentu..??

Semuga Allah memaafkan kita semua dan membimbing hati kita utk memahaminya ayat-ayatNya baik yg tertulis ( kauliyah ), mahupun ayat yg tidak tertulis ( kauniyah / ciptaan-Nya ) yang tersurat dan tersirat..Amin Ya Rabbal ‘alamin.
Padamkan Kiriman


Mudahan kita di beri Petunjuk dan Hidayah-Nya...amin...wallahu'alam.

Anasir-anasir yang cuba merosakkan aqidah umat Islam hari ini..

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dgn segala nikmat KurniaanNya..

Memang, Al Qur'an adalah firman Allah yang disucikan sehingga memegang pun harus suci dari hadath, namun hal ini bukan berarti haram bagi manusia untuk memahami sesuai dengan kadar pemikiran dan pemahamannya, karena Al Qur'an itu diturunkan sebagai petunjuk manusia dan semesta alam.

Al Qur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia...

Ada kelemahan bahasa manusia jika mengungkapkan rasa..manusia harus mulai menyadari keterbatasan dirinya, yang selama ini dijerumuskan oleh pengetahuan yang diperoleh, bahwa diri ini hanya terbatas pada mata, telinga, kaki serta anggota tubuh yang kelihatan.

Penggunaan aqal fikiran juga di mestikan... untuk dapat mengungkapkan tanda-tanda Kekuasaan dan Kebesaran Allah ditegaskan dalam FirmanNya banyak lagi seperti contohnya " Dia menumbuhkan bagimu dengan air hujan itu, tanaman zaitun, korma, anggur dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya yang demikian itu merupakan ayat-ayat Allah ( tanda-tanda kekuasaan Allah ) bagi orang- orang yang berfikir." ( An-Nahl ayat : 11 )

Kita sedar bahwa begitu agungnya Al Quran, dan begitu lemahnya kita dalam memahami syariat, sehingga kita lihat ummat Islam masa ini terperuk dan saling menyalahkan dan membuat tuduhan sesama kita....

Kita lihat pula gerakan atau kumpulan-kumpulan Islam muncul dimana-mana dalam dunia hari ini dengan berbagai bentuk penawaran berupa konsep keislaman yang lebih murni, namun apa yang terjadi ?? kenyataan mereka masih sangat rapuh..tinggal buih.. Indah khabar dari rupa.. kerana masing-masing pihak merasa yang paling benar dan Islam..

Satu hal yang belum ada dalam jiwa ummat adalah kelembutan hati akibat jauhnya dari ingat kepada Allah, memulainya sesuatu tindakan
bukan dilandasi karena Allah, melainkan bicara nafsu...

Kita belum memiliki keberanian untuk mengatakan aku lah yang lemah, salah dan terima kasih atas nasihatmu, padahal untuk hal seperti itu Allah sudah memberikan peringatan seperti FirmanNya " Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasehat menasehati supaya menta'ati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran ". dalam surah( Al Asyr ayat : 3 ).

Imam Hasan Al Banna berkata di dalam risalah ta'lim : ` Bagi iman yang tulus, ibadah yang benar serta mujahadah ( berjuang menundukkan hawa nafsu ) akan melahirkan cahaya kelazatan, yang Allah limpahkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki diantara hamba- hamba-Nya. Akan tetapi ilham, khuwatir ( lintasan-lintasan hati ), kasyaf ( penyingkapan rahasia ghaib ) dan mimpi bukanlah merupakan dalil- dalil hukum syariat dan tidak dianggap kecuali dengan syarat tidak bertentangan dengan hukum agama dan nash-nash-Nya ( nash dari Al Qur'an dan As Sunnah).'

Saya mohon maaf sekiranya ada yg tersinggung dan berharap mudahan mengerti dan fahamilah di sini, sebenarnya tidak ada bantahan langsung dari awal sehingga saat ini pada yang berpegang wajib di pimpin oleh guru, mahupun pakar dsbnya...punya pilihankan..

tapi bagi saya yg kerdil ini,..begitu bermakna dan bernilai dengan pengertian Kata " iqra " merupakan jendela untuk melihat kehidupan alam semesta yang luar biasa luasnya. Ayat ini menyiratkan makna, betapa Al Qur'an, Mutiara-mutiara FirmanNya di atas Izin serta RahmatNya membuka cakrawala dunia ilmu ( pengetahuan ), kerohanian yang dapat digali melalui kata ` baca '... ..Maha Suci Allah...

Alhamdulillah syukur yang di atas limpah kurniaNya Ilmu dari Engkau Ya Allah memberi pengertian iaitu bermulanya dari satu titik lalu mencorakkan huruf dan huruf-huruf itu adalah rumus yang pada asal dan mulanya tidak memiliki erti dan maksudnya apa-apa, sehingga kemudian dengan izinMu tersusun menjadi sebuah kata dan lagi susunan kata di olah menjadi pula sebuah kalimat (Ilmu) dan dari sebuah kalimat itu terkandungnya sebuah pengertian (mesti faham) ...dan seterusnya pengertian itu sebenarnya bukanlah sebuah kalimatpun ( mesti nampak ), dan untuk (merasa) jangan lagi pandang dan tilik pada titik tersebut tapi teruskan pada di sebalik titik itu.. Luasnya dan dalamnya Ilmu di dalam Ilmu dari Allah tidak terhingga..Ya Allah, Ya Allah, Allah, Allah Muhammad RasulAllah.....

seperti FirmanNya " Katakanlah " Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (di tulis ) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula). Katakanlah "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang di wahyukan kepadaku; " Bahawa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya." ( QS Al Kahfi : 109-110 ).

Jelas disini melalui Al Quran, Allah swt menanamkan pada ummatnya manusia agar menjadi manusia yg mahu berfikir( Afala tatafakkarun)..beraqal..(Afala ta'qilun)..dan meneliti ( Afala tandzurun )..maka kesimpulannya berfikir itu merupakan jalan yang utk mengetahui lebih jauh,luas dan dalam lagi..

Oleh kerana itu Wahyu yang pertama di turunkan Allah melalui Malaikat Jibrail yang di mulai dengan kata "( Iqra' )" Baca..dengan perintah Ilahi ialah melihat kejadian atau proses awal penciptaan manusia!!! Bacalah dengan nama Tuhanmu ..yang menciptakan manusia dari segumpal darah...dan ini adalah kebenaran.. yang dengan tegas Nabi Muhammad mengatakan tidak tahu membaca, kerana mengira perintah membaca adalah membaca pada huruf-huruf hijaiyyah atau tulisan..kerana beliau (ummi)..beliau menyedari hal ini sehingga Malaikat Jibrail menyampaikan wahyu yang di susupkan ke dalam hati sanubarinya yang bukan berupa suara mahupun huruf ( Laa Shatun wa laa harfun)..

Nabi Muhammad membaca Al Quran bukan kerana beliau pandai membacanya huruf-huruf hijaiyyah, akan tetapi Ia di bacakan Oleh Allah " Kami akan membacakan (AlQuran) kepadamu (Muhammad) maka kamu tidak akan lupa." ( Al A'laa: 6 ).("Sanuqriuka falaa tansa ") sehingga beliau tidak akan lupa selama-lamanya..sedangkan Firman Allah swt ataupun bahasaNya bukanlah berupa tulisan dan bukan berupa suara ( Laisa kamistilhi syai'un, tidak serupa dengan makhluknya)..

Bukannya menghina dan memandang rendah tetapi jesteru mengangkat darjat Baginda RasulAllah saw yg seorang ( ummi ) itu bukanlah bodoh dan jahil, sebab selama ini kita sering terjebak dengan kata "membaca" dengan pengertian yang terlalu sempit dan sombong..

Hari ini mereka-mereka ini mendapat penghargaan yg tinggi dgn pencapaian Ilmu seperti Ibnu Sina, Al Razi, Ishak Yuda, Haly Abbas, Abiruni, Albert Enstein, Thomas Alfa Edison, Archimides dll termasuk para Imam Besar, Ulama', Sheikh, Murabbi, Kiyai, ustadz ataupun guru dll.

Saidina Omar Ibni Khatab merupakan salah satu Sahabat Nabi yg memiliki kekuatan Batin dan mampu membaca rahsia ghaib atau dalam bahasa Tesawufnya di sebut (Mukasyaf) / Muhadatsun..Hadith RasulAllah saw " Di antara umat-umat sebelum kalian telah ada "Muhadatsun", kalau adapun seorang dialah Omar Ibni Khatab..

"Percayalah dengan firasat orang Mu'min, sesungguhnya dia melihat dengan cahaya Allah." ( HR, At Tirmidzi)

Dan padamu Wahai RasulAllah saw ia begitu ajaib atas pemerliharaan Allah padamu mudahan Selawat dan Salam Hormatnya kami sentiasa ingat dan ucapkan....

Guru Mursyid

Dengan izin Allah dan di atas RahmatNya..mudahan kalian semua di pertemukanNya dengan para guru mursyid..

Guru Mursyid..guru mursyid..guru mursyid..iho.. bila kita menyebutnya, secara otomatis kita akan memikirkan ketinggian keilmuannya dan kekaramahannya, keperibadiannya..mungkin ada lagi apa-apa yang terbaik buat kita menilai akan dirinya sebagai seorang mursyid, berpandukan kepada pedoman, garis panduan dan penerimaan yang sesuai dengan perjalanan menuju Ketuhanan. Sama sekali kita tidak menafikan akan anugerah Ilahi pada sesetengah manusia itu mendapat kelebihan dari segi ilmu mahupun karamahnya.

Haqiqatnya mereka yang bergelar atau di gelar sebagai sorang guru mursyid itu tetap makhluk yang bernama manusia, manusia, manusia seperti kita semua, kesedaran awal tadi (guru mursyid) tapi berlangsung kini berubah kesedaran menjadi manusia..mari kita merenung sejenak, baiklah apa pula yang kita faham, nampak dan rasa apa itu ( manusia )? jangan renung dalam kelompok yang kecil, tapi pandanglah nun jauhnya disana (global )...berpandukan ( QS Al Kahfi : 109 - 110 )..dan lagi ( QS Al Nahl : 43 ).

Dalam membicarakan tajuk ini, sedarilah kita ada yang bertemu serta di temukan dan mungkin tidak bertemu langsung, semuanya di atas Kehendak dan Kekuasaan Ilahi..Maha AgungMu Ya Allah sebagai Waliyam Mursyada Maha memberi Pertunjuk dan Hidayah, Engkaulah Ya Allah Yang Mengajar kami.. ( QS Al 'Alaq 1 - 5 ).

Firman Allah swt " dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barangsiapa yang menta'ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang di anugerahi ni'mat oleh Allah, iaitu: Nabi-nabi, para shiddiqin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh.Dan mereka itulah teman yang yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah kurnia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui. ( QS An Nisaa' : 68 - 70 ).

Buat renungan sahaja " Kenapa guru yang mengajar.. contohnya (Tok guru Nik Aziz) guru itu tidak jadi Mursyidul Am ? mohon ampun dan maafkan saya dari dzahir dan batin, kerana membuat sedikit perumpamaan atas nama Tok guru.

Kisah-kisah sufi atau yg berkaitan banyak kena mainan syaitan, memang ada,..bagaimana pula dengan para-para sufi atau yg berkaitan di sebaliknya ??, dengan maksud yg berada di atas landasan di atas IzinNya dan RahmatNya ??

dan buat makluman Tuan dol_bendol, apa pengertian anda pula dengan firmannya di dlm Surah An Nisaa' 69-70 berhubung kait dgn ayat Quran 43 : 36.. ??

walau bagaimanapun kita akui haqiqat diri wajib di kenali sesuai dgn FirmanNya Adz Dzaariyaat : 21 dll...

mengamati serta mempelajari Ilmu dari Allah swt amatlah wajib, sehingga kita sendiri pernah di motivasi oleh Baginda RasulAllah saw " agar menuntut ilmu sampai ke negeri Cina "..jangan pula kita menjadi riak dan ujub apabila di buka kan Allah rahsia-rahsia Ilahi pada yg mengerti di Atas IzinNya dan Rahmatnya..dan jangan juga menjadi pandangan dari Ilmu Allah dalam satu dimensi sahaja seperti sesetengah manusia cuba mengerti ilmu dan menggambarkan agama dengan aqalnya tanpa sesuatu dalil yg haq, umumnya yg di perolehi adalah interpretasi yg terjadi pada masa lampau, sehingga pola kehidupan kita seperti akan di paksa atau terpaksa utk hidup seperti apa yg terjadi oleh kaum terdahulu contohnya di antara perumpamaan Hebat yang Allah ciptakan didlm Ash habul Kahfi..pertama kita mengakui kebenaran Kekuasaan Allah swt terhadap pemuda-pemuda yg tertidur dan terjaga lebih kurang 350 tahun sebelum itu..dan pandangan satu sisi lagi atas perumpamaan itu pemuda-pemuda tersebut menjadi hairan dengan dunia yg amat berbeza dari masa 350 tahun sebelum itu ??

Keluasan dan kedalaman Ilmu dari Allah juga di ungkapkanNya melalui FirmanNya di dlm surah tersebut Al Kahfi :109-110...dan jangan jadi seperti sesetengah manusia yg cuba menyempitkan minda kita dengan menyebarkan, mereka-reka sesuatu ilmu / cerita dengan fahaman kuno lagi merapu...seolah-olah dia seorang saja yg tahu, dan org lain seperti dungu...

Baginda RasulAllah saw sebelum wafat sudah tahu di atas IzinNya dan RahmatNya, akan penyelewengan pengertian agama tetap akan berlaku, maka sebab itu, Beliau berpesan / berwasiat supaya ummatnya tidak akan sesat selama-lamanya andai berpegang pada Kitabullah ( Al Quran ) dan Sunnahnya..mudahan kita semua mendapat pertunjuk dan hidayahNya..Amin.

" Wattaqullah wayu'allimukumullah, wallahu bikulli syai in 'alim " . Dan bertaqwalah kpd Allah, Allah yang mengajarkan kamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu ( Al Baqarah : 282 )..

Bahawa manusia harus menyedari atas Kekuasaan Ilahi yg di berikanNya keilmuan, kepandaian dll yg di miliki kita itu hanyalah milik Allah sebenarnya, yang akan di ambil kembali bila-bila masa ataupun tiba saatnya...

Kekhawatiran atas kesombongan serta riak manusia itu yg terkadangnya telah melupakan asal muasal yg di milikinya sehingga tidak menerima bahawa semuanya itu adalah haq Allah..memang benar hal sebegini rupa akan menjadi hambatan ataupun hijab baginya untuk menuju Allah swt.

Allah berfirman dengan tegasnya dalam bentuk nafiah ( peniadaan ) " Sesungguhnya kamu tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah mengetahui orang-orang yang mahu menerima petunjuk ".. ( Al Qashash : 56 )

..dan lagi FirmanNya " Barang siapa yang di beri petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang di sesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang yang dapat memberi petunjuk kepadanya..". ( Al Kahfi : 17 )..dan banyak lagi FirmanNya.. .

dengan demikian tepatlah seperti apa yang Baginda RasulAllah saw pernah bersabda " qul innama ana basharun mitslukum yuuha ilayya annama ilahukum ilahun waahid " katakanlah; Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang di wahyukan kepadaku. Bahawa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa ( Al Kahfi : 110 )..Amin Ya Rabbal 'Alamin..

Mudahan di perkenankan.. siapa yang mentauliahkan dan siapa yang mengitirofkan ??, yakinlah semua ini di atas IzinNya dan RahmatNya..

Syeikh Ahmad bin 'Athaillah di dalam Al Hikam menyebutkan bahawa " Tiada sesuatu benda yang menghijab engkau dari Allah, tetapi yang menghijab engkau adalah prasangkamu tentang adanya sesuatu di samping Allah, sebab segala sesuatu selain Allah itu pada haqiqatnya tiada maujud ( tidak ada ), sebab yang wajib ada hanya Allah, sedang yang lainnya terserah kepada belas kasihan Allah untuk di adakan atau di tiadakan "

akhir kata buat renungan sesama kita " Tujuan dari agama dan Ilmu yang benar hanyalah satu,, iaitu menuju mendekati kebenaran yang mutlak..Ilmu untuk mengetahuinya dan agama untuk merasainya.. mudahan kita di beri Pertunjuk dan HidayahNya..Amin.

Lain padang lain lalangnya..lain orang lain pula caranya, kita semua di sini sebenarnya mahu kongsi pengalaman dan pengetahuan..ada yg kalian tahu, saya tidak tahu....perbicaraan kian panas dan Kebenaran mutlaq, Allah Maha Mencipta segala-galanya..

Siapakah Yang Maha Mengetahui ??, Maha Pembimbing ??,..sudah tentu jawabannya Allah..bukan terasa biadap mahupun kesombongan, apabila mahu mencari kebenaran..timbulnya kerendahan, kekerdilan serta kejahilan..disni Allah sediakan buat makhluknya yang mahu berjalan menuju Ketuhanan dgn tingkatan ketaqwaan mahupun penyerahan diri..

Allah Maha Tahu, Dia yang Mencipta segalanya...Di atas IzinNya dan RahmatNya, ada hambanya yg di anugerahkan dgn cara tersendiri, ada yang di hadirkan oleh itu kita bahasakan sebagai Murabi, Guru / Murshid, dsbnya..

Pada kebanyakkan berpegang pada penyebaran ilmu Ketuhanan sudah semestinya melalui proses pembelajaran, perlu pembimbing, perlu ada silsilah tertentu bagi membuka pintu-pintu rahsia, perlu peradaban khususnya Ilmu kerohanian dan amnya ilmu keduniaan.jadi berbagailah dalil serta nas di persembahkan bagi mengukuhkan hujah serta bicara tersebut...kita akui benar..

Begitu pula ada sedikit yg berpegang Di atas IzinNya dan RahmatNya juga merasai tidak perlu pada sang yg bergelar murshid untuk mencapai tujuan perjalanan mencari Ketuhanan, dgn beberapa alasan spt takut terjebak ke dlm paradigma Hinduisme yg menempatkan " Guru " sebagai makhluk melebehi sesuatu dan suci..Rahib dalam kependetaan Yahudi dan Nasrani..

Firman Allah swt " Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah, ( juga mereka mempertuhankan ) Al Masih putra Mariyam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan ( yang berhak disembah ) selain Dia " ( At Taubah : 31 )..Allah menegaskan tidak layak bagi bernama makhluk utk mengatur dan mendidik manusia..di kuatkan lagi dgn FirmanNya.." 'Allamal insaana maalam ya'lam " ertinya " Dia yang mengajar manusia apa yang tidak di ketahuinya " ( Al 'Alaq : 5 )

" Dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta fikiran ( perasaan ), supaya kamu bersyukur" ( QS An Nahl:78 )..

Ada dua pernyataan di sini khususnya pada mencari kebenaran menuju Ketuhanan..
1) Wajib berguru dgn guru Murshid..sekiranya ada kemusykilan jadi ada tempat rujukan, begitu seterusnya.

2) Tidak perlu, melainkan menyedari atas kepandaian dan kehebatan yg di milikinya itu hanya semata-mata milik serta kepunyaan Allah, yg akan di beri pd sesiapapun, begitu juga akan di ambil kembali pd saatnya..

Baginda Mulia menempatkan kaum terdekatnya sebagai " sahabat ", berbeda dgn doktrin Hinduisme yg menempatkan " Guru ". Paparan di sini tidak bermaksud mahu merendahkan kedudukan martabat manusia sebagai pembimbing, pembersih jiwa, murabi serta guru Murshid, tetapi pandang dari sisi hakikatnya...keakuan kita bersaksi kan Dia Yang Maha Mengetahui, Maha Pembimbing, Maha Suci, Maha Pemberi Pertunjuk.

Niat saya sebenarnya mahu membuka minda sesama kita..
1) tidak bertujuan mengabaikan kewibawaan guru-guru, sehingga menyiratkan rasa kesombongan seorang anak manusia tidak akan belajar lagi pd manusia..dan

2)agar kesombongan manusia terkadang lupa menilai kepada yg bernilai iaitu melupakan asal muasal yg di milikinya sehingga tidak menerima bahawa itu semuanya adalah haq dan milik Allah..dan hal sebegini rupa akan menjadi hijab baginya untuk menuju kepada Allah swt..sila rujuk ( Al Kahfi : 17 ), ( An Nuur : 21), ( Al Qashash: 56 ) Mudahan kita di beri Pertunjuk dan HidayahNya.

para perjalanan kerohanian mahu menuju Ketuhanan..silalah buat penilaian dengan IzinNya dan RahmatNya dapat kita mengawali setiap langkah yang lebih berkualiti dan sempurna setelah mengerti Dzat dan arah tujuan beragama kita, bukan bergelojak dalam alam retorika Ilmu Tauhid yg tidak ada habisnya....

Baginda Mulia RasulAllah saw bersabda: " Barangsiapa menuntut ilmu dengan maksud untuk bersaing dengan para ulama atau untuk bermujahadah dengan orang-orang jahil atau untuk menarik perhatian orang lain, maka dia akan masuk neraka". ..dan lagi..

" Setiap orang yang telah mendapat pertunjuk kemudian sesat di sebabkan suka berbantah-bantahan untuk mencari kemenangan dan bukan kebenaran, maka dia tidak akan mendapat keuntungan kecuali orang itu dilimpahi rahmat Allah sehingga dia bertaubat".

Firman Allah SWT " Katakanlah " Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, ( mengharamkan ) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan ( mengharamkan ) mengada-ngadakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". ( QS Al A'raaf: 33 ).

dan FirmanNya " Maka bertanyalah kepada orang yang pengetahuan, jika kamu tidak mengetahui. ( An Nahl : 43 )

Mudahan kita semua mendapat Keredhaan, Pertunjuk dan HidayahNya.. Amin...

Mari kita sama-sama berjalan, berpegang erat persaudaraan kita...

Menyatakan pendapat, memberi pandangan..sebenarnya baik untuk sesama kita menilai sejauh mana dan sedalam mana bicara itu..

Mari kita merenung sejenak dgn FirmanNya " Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya adalah seperti lubang yang di dalamnya ada pelita. Pelita itu di dalam kaca. Dan kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang di berkati, iaitu minyak zaitun yang bukan dari timur dan tidak ( juga ) dai barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak di sentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjukkepada cahaya-Nya kepada siapa yang di kehendaki-Nya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu " ( An Nuur : 35 )...

Dengan berbekal sedikit ilmu Ketuhanan, memasrahkan diri, yaqin dan redha KetentuanNya...menggantungkan jiwa dgn segenap syari'at yg telah ditentukan, mudahan mendapatkan cahaya keimanan yang lebih dalam dan sunyi..Cahaya itu bersemayam di dalam hati orang-orang yang terpilih dan dikehendakiNya, tidak ada guru murshid, tidak ada murid di sini..

Imam Ghazali dalam menamakan pengertian ini sebagai pengertian " awwali ". Dari mana pengertian-pengertian tersebut di perolehi, sebagaimana ucapan beliau " Fikiran menjadi sehat dan berkeseimbangan kembali dgn aman serta yakin dapat menerima kembali segala pengertian-pengertian awwali dari aqal itu. Semua itu terjadi tidak dengan mengatur alasan atau menyusun keterangan, melainkan dengan Nur ( cahaya ) yang di pancarkan Allah swt ke dalam batin dari Ilmu ma'rifat " ( dalam buku Pembebasan dari kesesatan, halaman 10)..

Dengan cahaya itu Allah menunjuki jalan ruhani kita utk mendengar, melihat, merasa secara nyata..Di atas IzinNya dan RahmatNya Allah yang akan menghantar jiwa kita meluncur, melayang menemui-Nya..dengan cahayaNya juga kita mampu membezakan di antara haq dan bathil, Iblis dan syaitan..seperti firmanNya " Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan menjadikan bagimu furqan ( pembeda ) "( Surah Al Anfaal : 29 )..

Firman Allah lagi " .Barang siapa bertaqwa kepada Allah nescaya Dia akan mengadakan bagimu jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan ( keperluan ) nya" ( At Thalaaq : 2-3 )

Bukan seorang " Guru Murshid " yang memberi cahaya tersebut..perhatikan Baginda Mulia RasulAllah saw sendiri mengaku sebagai manusia biasa dan jgnlah mengAgungkan dirinya spt kaum Nasrani mengAgungkan Nabi Isa as ?? sebenarnya betapa tinggi akhlaq dan bersih hatinya, namun bukan berarti melihat pernyataan Beliau sebagai manusia biasa, Ia adalah RasulAllah saw yang akan membuka syafa'atnya di hari Qiamat nanti..

Dunia Tesawuf telah koyak rabak sehingga ke saat ini, sehingga keberadaan Allah di salah erti, mengklaimkan jalan menuju kpdnya begitu payah dan sukar ??... ( teramat sedih sekali )..

Keyakinan seseorang itu akan mudah lepas dan selalu dalam keraguan apabila selama ini kita seolah-olah dipaksa untuk terus bersetuju ataupun percaya terhadap sesuatu keyakinan, tanpa pernah memikirkan dan memahami mengapa kita harus meyakininya...

Pandangan peribadi, apabila kita membicara bab ini, sudah semestinya ada satu tanda pengertian rasa yang saling berkait rapat di antara kalimat tersebut itulah Ilmu....ada persoalan dan ada jawapannya..tetapi dalam dunia kerohanian ( spiritual Islam ) adakalanya banyak persoalan tak terjawab, maka itulah kita wajib mencari Ilmu ,... dan pada yg bergelar guru.. tidak usah sampai mentaksubkan..

wallahu'alam

Pintu laluan iblis dalam hati manusia...

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dgn segala nikmat kurniaanNya..

Ingat si Iblis juga menyebut nama Allah mengaku Kekuasaan Allah dan tahu Kebesaran Dzat Maha Agung lagi Suci, namun tidak mematuhi perintah Allah, walaupun ia berkomunikasi dan memohon kekuatan untuk kepentingan nafsunya, serta di kabulkan permintaannya ( QS As Shaad : 71 - 88 )..

Iblis laknatullah itu mampu meresap ke dlm fikiran, melalui aliran urat saraf dan darah, menembusi ruang dan waktu..mereka tidak pernah jemu menghasut, menyesatkan kita,.. meskipun kita juga tidak pernah putus asa dan tetap berusaha menangkis, lawan tetap lawan, namun gagal dan kecundang jua akhirnya..kesedaran ini telah di perakui yang makhluk ini bukanlah tandingan kita..walaupun anggapan kita yg tipu dayanya si iblis adalah sangat lemah..

Iblis dan juga kuncu-kuncunya juga sebenarnya sdg berkhidmat kpd Allah, tetapi perkhidmatan mereka ini hanya untuk satu tujuan iaitu menyesatkan kita umat manusia yang sebaik-baik kejadian, tetapi kebanyakkan kita lupa dan lalai yg kita punyai satu peluang lagi yang di atas IzinNya dan RahmatNya iaitu " kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka" ( Al Shaad : 83 )...

Ikhlas itu di mana ??..Ilmu di dalam Ilmu dan Ikhlas di dalam Ikhlas..hanya Allah yg Maha Mengetahui..wallahu'alam.

Wasiat dari Luqmanul Hakim buat anak-anaknya..

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dengan segala ciptaan kurniaanNya..

Ada tiga asas agama ; aqidah, syariah dan akhlak menjadi teras enam wasiat dari Luqmanul Hakim buat anak-anaknya sebagaimana tercatat di dalam Al-Quran, Surah Luqman : 13 - 19.

1) Meninggalkan serta menjauhi perbuatan syirik kepada Allah ( ayat 13 )..agar dpt mendidik anak-anak dgn teras aqidah iaitu Tauhid kepada Allah swt, Luqman juga berpesan dan memperingatkan anaknya supaya tidak melakukan syirik kpd Allah swt, dan sentiasa membersihkan diri dpd sebarang kerosakan dan kesesatan yg berpunca dpd syirik..

2) Berbuat baik pada Ibu bapa ( ayat 14-15 )..mendidik anak-anak untuk sentiasa berbuat baik terhadap ibu bapanya. Walau bagaimanapun, jika kedua ibu bapanya mengajak atau memaksa anak bersubahat dan melakukan syirik ataupun perbuatan yg di tegah oleh agama, ia tidak wajib di patuhi..ini menunjukkan bahawa agama Islam lebih mementingkan hubungan aqidah berbanding hubungan kekeluargaan dan keturunan..

3) Setiap amal perbuatan akan di beri balasan oleh Allah swt ( ayat 16 )..memberi tarbiyah serta menanamkam dalam diri anak-anak akan keyakinan bahawa setiap amal perbuatan walaupun sebesar zarrah, sama ada baik atau buruk, berlaku secara terang mahupun tersembunyi, tetap akan di hitung dan di beri balasan yg setimpal oleh Allah swt..

4) Mendirikan solat, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah dpd kemungkaran serta sentiasa bersifat sabar ( ayat 17 )..mendidik anak-anak mendirikan serta menunaikan solat, menyuruh berbuat kebaikan dan mencegah sebarang kemungkaran serta bersabar sekiranya ditimpa bencana dan erti kesusahan..

5) Menjauhi sifat sombong dan bangga diri ( ayat 18 )..mendidik anak-anak supaya tidak bersifat sombong dan bangga diri serta menggalakkan supaya sentiasa bersifat tawaddu' yang boleh melahirkan keutuhan dalam erti persaudaraan..

6) Bersederhana ( ayat 19 )..mendidik anak-anak supaya sentiasa bersikap kesederhanaan, salah satu dpd sifat terpuji di dalam Islam. Termasuk dalam tuntutan bersederhana ini ialah menjaga dan melembutkan suara yg sudah tentunya menyerlahkan lagi kesopanan seseorang muslim..

wallahu'alam.

Isnin, 25 Januari 2010

Sedikit terjemahan serta tafsiran Surah ( An Nur : 35 )

Di atas IzinNya dan RahmatNya..Alhamdulillah syukur kita dengan segala Nikmat serta RahmatNya..

Mari kita buka surah An Nur 35, yang artinya :

Allah ( pemberi) cahaya ( kepada ) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang didalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tidak tumbuh di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya) yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.

Professor Ali Ash Shabuni, mufassir terkemuka masa kini memberikan penjelasan mengenai arti ayat diatas dalam kitab tafsir Shofwatut Attafaasir halaman 240, sebagai berikut ;

Allah cahaya bagi langit dan bumi, yaitu Allah sebagai munawwir ( yang menerangi ) langit dan bumi. Allah menerangi langit dengan bintang-bintang yang terang dan menerangi manusia di bumi dengan syariat dan hukum-hukum. Oleh sebab itu di turunkanlah utusan-utusan (rasul-rasul) yang mulia. Arti Cahaya ( Nur) disini adalah ciptaan Allah berupa bintang-bintang atau matahari, sedangkan Cahaya (Nur) bagi penduduk bumi berupa hukum-hukum atau syariat. Dan diturunkan rasul-rasul sebagai Nur yang memberikan pencerahan dari alam kegelapan menuju alam yang terang benderang …minadhz dhzulumati ilan nuur (Al Baqarah ayat 257 ).
Pada tafsir ini disimpulkan bahwa cahaya itu ciptaan Allah bukan Allah itu sendiri. Jika demikian arti cahaya sebagai diluar Tuhan (ciptaan) maka kita telah syirik apabila menghadap kepada ciptaanNya.

Mari kita lanjutkan dengan pendapat yang lain :

Telah berkata Ath Thabari : Allah sebagai Pemberi petunjuk ( Al Hadi ) bagi penduduk langit dan bumi dengan cahayanya menuju kebenaran ( Al Haq ) dan memberikan tuntunan ( isymat ) untuk keluar dari perbuatan yang tercela.

Allah yang menuntun penduduk langit dan bumi dengan berbagai macam cara, berupa ilham, isymat ( tuntunan secara langsung ), sehingga orang keluar dari perbuatan yang tercela menjadi kebaikan. Hal ini terjadi kepada Nabi Yusuf Alaihissalam : Sungguh wanita itu telah bermaksud ( melakukan perbuatan itu ) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud ( melakukan pula) dengan wanita itu, andai kata tidak melihat tanda ( Burhan/ cahaya/ pencerahan ) dari Tuhannya. Demikianlah agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang berserah diri ( Yusuf :24 )

Allah memberikan pencerahan ( burhan ) kepada nabi Yusuf berupa bimbingan dan tuntunan (‘Isymat) agar selamat dari perbuatan yang tercela. Dengan demikian nabi Yusuf telah mendapakan Nur Allah, artinya Yusuf telah mendapatkan ilham dari Allah .

Kemudian pendapat Syekh Al Qurthuby : Kata Cahaya ( An Nur) bagi orang-orang Arab, sering digunakan sebagai majaz ( perumpamaan ) untuk memberikan makna kepada sesuatu kata yang sulit di ungkapkan, sehingga mereka cukup berkata itu "Nur".

Kata-kata majaz ini sebenarnya tidak perlu kita fahami sebagai arti yang sebenarnya , sebab kita akan menjadi bingung sendiri.

Seperti ungkapan seorang penyair : Engkau bagiku adalah Nur, artinya sebagai penolong dan penuntun.. ada juga orang yang berkata : Si fulan itu cahaya (Nur) bagi Negerinya , sebagai matahari dan bulan.

Bagi orang-orang Arab lumrah saja mengatakan bahwa Allah adalah Nur bagi alam semesta. Disebut demikian karena adanya alam ini berasal dari Allah, bergantung kepadanya, dan yang mengatur segala urusannya dengan ketetapan kudrat-Nya. Maka Allah disebut Nur alam semesta.

Kita tidak perlu mengkotak-katik kata majaz ini sebab kita akan tersesat sendiri, seperti pada kalimat "saya mahu pergi ke rumah sakit". Kalau kita tidak mengerti kata majaz, kita akan menjadi pening karena tidak akan menemukan rumah yang menderita sakit. Atau ada kalimat "nyiur melambai-lambai", kita cukup mengerti apa yang dimaksudkan tanpa harus mengatakan nyiur takkan melambai-lambai ??, memangnya bukan bertangan pun ??

Pada masa Nabi, hal itu tidak pernah ditanyakan artinya, karena para sahabat sudah faham maksudnya dan kalimat (majaz /perumpamaan) itu sudah terbiasa di gunakan untuk menjelaskan sesuatu yang sulit dimaknai dengan baik. Seperti pada kalimat "Allah menciptakan langit dan bumi dengan kedua tangannya.", kita tidak perlu membayangkan tangan Allah seperti apa .??

Berkata Ibnu Athaillah : beliau menafsirkan Nur yaitu " keadaan segala sesuatu pada dasarnya adalah kegelapan ( ketiadaan ), kemudian Allah menerangi dengan Nur-Nya sehingga menjadi tampak / terwujud atau menjadi ada. Kalaulah tidak ada wujud Allah maka tidak akan ada wujud segala sesuatu ini. Sebagaimana hadist Rasulullah Saw : Allahumma lakal hamdu anta nurussamawaati wal ardh waman fihinna ~ Ya Allah, Engkau adalah cahaya bagi langit dan bumi beserta isinya )… Pada dasarnya segala sesuatu itu tidak ada, yang ada hanyalah Allah. kemudian semua menjadi ada, disebabkan adanya Allah. maka Allah disebut Cahaya ( Nur ), karena yang memulakan ada.

Berkata Ibnu mas’uud : laisa ‘inda rabbikum lailun wa nahaarun. yang dimaksudkan adalah wujud Allah yang tidak terpengaruh oleh waktu malam ataupun siang, sebab Dzat Allah tidak terikat oleh segala sesuatu, akan tetapi segala sesuatu terikat atau bersandar kepada Dzatullah. Secara tegas beliau mengartikan nurussamawati wal ardh itu adalah Dzatullah.

Berkata Ibnu Qayyim : Allah swt menamakan dirinya Nur. Dan Allah juga menamakan kitabnya Nur, rasul-rasul-Nya sebagai Nur, menghijabi dirinya dan makhluknya dengan Nur.

Dengan demikian telah sepakat para mufassir untuk mengartikan Allah Nurussamawati wal Ardh sebagai Al hadi; yang memberikan hidayah, yang menciptakan langit dan bumi beserta isinya.

Dalam hal ini tidak ada pertentangan antara Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim dan yang lainnya. Mereka sepakat,sebab kalau cahaya dengan arti yang sebenarnya maka kita telah menyembah bukan Dzat-Nya tetapi ciptaan-Nya sehingga kita termasuk orang yang berbuat syirik. Sama halnya apabila kita menyembah matahari, karena matahari juga disebut Nur, kitab-kitab disebut Nur, ilmu juga disebut nur, hidayah berarti nur, si fulan juga nur bagi negaranya, Muhammad juga nur dst. Akan tetapi yang dibahas pada ayat diatas adalah Allah sebagai Nur, nurun ‘ala nurin. Dia cahaya diatas cahaya .

Untuk lebih jelasnya kita lanjutkan bagaimanakah kenyataan Nur yang dimaksudkan oleh tafsir berikutnya : ( matsalu nuurihi ) perumpamaan cahaya Allah dalam hati orang-orang mukmin bagaikan sebuah misykat ( kamisykatin fiha misbahun / cerukan pada dinding yang didalamnya terdapat pelita, yaitu cahaya yang terhimpun di dalam misykat yang mengakibatkan cahaya itu bersinar amat terang sekali .

Di dalam kitab Tasyhil dijelaskan : Bahwa makna sifat Nur Allah sulit digambarkan oleh pikiran manusia, maka dibuatlah perumpamaan seperti sifatnya misykat yang didalamnya ada pelita yang terang benderang karena sinarnya terhimpun disitu. Misykat itu ibarat hati orang mukmin, sedangkan hidayah itu adalah Nur Allah yang menuntun hati orang mukmin menuju jalan yang haq.

Dengan Nur itulah Allah akan membimbing menjadi ‘khusyu’, bertakwa, bergetar hatinya dikala disebut nama Allah, dan menenangkan hati, serta melapangkannya. Nur Allah itu bukan berwarna kuning, biru, atau yang putih berkilauan, sebab itu masih berupa apa yang bisa kita bayangkan. Sedangkan Nur Allah bukan berupa huruf, bukan suara, bukan wujud materi.

Seperti disebutkan didalam kitab Masyariq, bahwa Nur, ilham, wahyu, ialah sesuatu yang diberitahukan dalam keadaan tersembunyi dan cepat. Dikehendaki dengan cepat ialah dituangkan sesuatu pengetahuan-pengetahuan kedalam jiwa sekaligus dengan tidak lebih dahulu timbul pikiran dan muqaddimat-muqaddimatnya.

Itulah yang dimaksudkan Allah memberikan tuntunan dengan Nur-Nya. Nur di sini berarti ilham atau wahyu , intuisi, naluri. ( Almishbahu fii zujaajah), pelita itu terbuat dari kaca yang bening, seakan-akan bintang-bintang seperti mutiara, yang minyaknya berasal dari pohon zaitun yang di berkati. Dan mengandungi manfaat yang sangat banyak.

Laasyarqiyya wa la gharbiyyah ~ tidak tumbuh ditimur dan tidak juga di barat. Ayat ini menggambarkan bahwa Nur itu tidak bisa digambarkan sehingga tidak bisa dikatakan berada dimana dan bagaimana. Tidak barat juga tidak timur berarti tidak ada batas ruang waktu, tidak ada tempat..

Diibaratkan berada di ruang yang tidak ada apa-apa, misalnya berada di padang pasir yang luas, tidak ada gunung, tidak ada pohon, tidak ada goa, atau seperti kalau kita berada diruang angkasa, kita berada di luar pengaruh siang dan malam, tidak dibatasi oleh bumi dan planet lainnya maka kita akan berada di wilayah yang tidak ada barat, timur, atas, bawah, utara, selatan, tidak ada kemarin tidak ada akan datang , tidak ada hari isnin, selasa , bulan, januari, februari dll, yang ada kekinian atau keabadian .

Inilah penggambaran bahwa alam hakikat itu tidak di bisa dibatasi oleh ruang dan waktu serta batasan pikiran sempit manusia. Kita harus memasukinya bukan berada pada batas ruang dan waktu ~ karena kita akan menjadi kecil dan sempit.

Sebab pikiran dan perasaan tidak akan mampu menggambarkan (memberikan persepsi) atas keadaan hakikat kecuali kita mampu "memfanakan" diri dan alam semesta maka wajah Dzat yang ada . Karena rasa dan pikiran bukanlah sebuah ukuran untuk memberikan perbandingan yang amat luas dan tak terhingga, kasih sayang Allah tidak bisa di uraikan oleh keutuhan rasa manusia.

Selama ini kita hanya mengira atau menyangka (dzhan) bahwa kasih sayang dan kehebatan Allah itu bisa kita rasakan. Itu hanyalah anggapan bukan keadaan yang sebenarnya. Karena rasa manusia itu terlalu kecil untuk bisa menggambarkan kenyataan kasih sayang Allah.

Maka benarlah kita ini ternyata hanya bisa mengira dengan dzhan kita …inna dzhanni abdi …Aku menurut persangkaan hamba-hamba-Ku …..
... yukadu zaituha yudhi-u walaulam tamsashu naarun ~ yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api (kalimat ini merupakan mubalaghah, didalam mensifati minyak yang sangat bersih dan bening apalagi kalau disentuh api)
Nurun ‘ala Nurin ~ Allah adalah Cahaya diatas cahaya .

Sesungguhnya telah terhimpun cahaya dan penutup lampu yang indah, minyak yang bersih maka sempurnalah cahaya yang diperumpamakan dengannya. Maka Allah-lah yang berada diatas segala cahaya, karena Dialah yang menggerakkan cahaya (ilham) kepada siapa saja yang dikehendaki .

Kesimpulan dari tafsir diatas dengan mempertimbangkan beberapa pendapat ulama masyhur seperti Ibnu Mas’ud, Ibnu Athoillah, Ibnu Qayyim dan kitab-kitab yang terkenal keshahihannya adalah bahwa kata "NUR" merupakan kata majazi yang bisa digunakan untuk penyebutan apa saja yang memiliki kelebihan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Seperti matahari merupakan Nur bagi langit, si fulan adalah Nur bagi negerinya karena ia adalah anak yang telah membawa nama harum bangsanya serta pengabdiannya yang tidak ternilai.

Rasulullah adalah Nur bagi ummat yang keadaannya sangat jahiliyyah, sehingga Syekh Al barzanji menulis syair untuk beliau " anta syamsu anta badru anta nurun fauqa nurin, engkau adalah matahari, engkau adalah bulan dan engkau adalah cahaya yang terang diatas segala cahaya.

Alqur’an juga di sebut An Nur, karena merupakan firman Allah yang memberikan jalan kebenaran dan tuntunan hidup bagi manusia.

Ilham merupakan Nur dari Allah, disebut Nur karena merupakan pencerah hati dari yang gelap dan buta menjadi faham dengan ilmu pengetahuan.

Gambaran ayat diatas adalah menerangkan keadaan hati orang mukmin yang terang setelah mendapatkan pencerahan dari Allah berupa ilham atau hidayah. Cahaya yang dimaksudkan bukanlah Dzat Allah akan tetapi ilham/ hidayah. Dan Allah menggelari dirinya sebagai Nur diatas Nur (Nurun ‘ala Nurin), yaitu Cahaya Yang menggerakkan Cahaya, yang menciptakan cahaya (bintang-bintang), menurunkan cahaya-cahaya yang menerangi ummat (rasul-rasul), memancarkan cahaya berupa ilham atau intuisi yang menerangi kebodohan (Al ilmu nurun / ilmu itu cahaya), cahaya-cahaya tersebut bukanlah Dzat Tuhan, dan barang siapa menyembah kepada cahaya-cahaya tersebut berarti telah terjebak kepada cahaya yang diciptakan Tuhan.

Kita disuruh mencari sumber cahaya yaitu Nurun ‘Ala Nurin, Cahaya diatas Cahaya.

Ada dua Nur yang di uraikan diatas :

Pertama

adalah Nur yang bersemayam dihati orang mukmin. Seperti yang telah digambarkan sebagai misykat yang didalamnya terdapat pelita yang terang dengan minyak yang berasal dari pohon zaitun yang diberkati. Maka Nur tersebut berarti ilham yang masuk kedalam jiwa yang dikendaki oleh Allah (pencerahan), melalui ilham itu manusia dapat mengikuti tuntunan atau petunjuk Allah kepada Yang Haq .

Yang kedua,

Nurun ‘ala Nurin. yang dimaksud Nur disini adalah Dzat Allah. seperti yang telah diuraikan oleh Ibnu Mas’ud, Ibnu Qayyim. Karena Allah menamakan dirinya juga Nur, artinya yang mengadakan dan yang menggerakkan cahaya-cahaya, yang menurunkan Nur( ilham ) kedalam hati orang mukmin. Maka Allah disebut Nurun ‘ala nurin…cahaya diatas cahaya, yaitu cahaya yang menguasai seluruh cahaya. Dengan demikian Nur yang dimaksudkan adalah Dzat Allah yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya. Kepada Dzat inilah kita kembali dan bersujud, bukan kepada Nur yang diciptakan.

Katakanlah : Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa . barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukannya ( Al Kahfi: 110 )

Ayat ini merupakan peringatan bagi orang yang mencari Tuhannya untuk bermakrifat kepada Allah bukan kepada selain Allah, sebab banyak orang terjebak kepada logika yang keliru ketika ia berpendapat bahwa: kita tidak bisa membayangkan wajah Allah, lalu dengan sangat disesalkan ia mengatakan: kita cukup menuju kepada Nur-nya saja .

Ketidakbisaan kita untuk berkomunikasi kepada Dzat yang tidak bisa diserupakan dengan makhluknya bukan lantas kita harus mengatakan, "kalau begitu kita cukup menyembah kepada Nurnya saja, sedangkan Nur itu bukan Allah dan justru Allah secara tegas mengatakan diri-Nya juga disebut Nur diatas Nur. Artinya yang mengadakan Nur yang menyebabkan adanya Nur. Berarti nur-nur itu berada dibawah Allah atau bersandar kepada Allah. Dengan demikian kita tidak mungkin bersujud dan berkonsentrasi kepada yang bersandar (makhluk), sama halnya "sifat" yang bergantung dengan Dzat, maka sifat bukanlah Dzat itu sendiri.

Dialah yang memberikan taufik untuk mengikuti Nur-Nya yaitu Alqur’an. Dialah yang menyinari langit dan bumi dengan bintang-bintang (Nur) Dialah yang memberikan pengetahuan (Al ilmu nurun / ilmu adalah cahaya), Allah mengutus Rasulullah sebagai Nur untuk mengeluarkan masyarakat jahiliyyah (kegelapan) menuju Nur.

Sesungguhnya AKU ini bernama Allah, tidak ada Tuhan selain AKU, maka sembahlah AKU dan dirikanlah shalat untuk mengingat AKU . (QS Thaha:14 )

Ayat ini merupakan kalimat yang harus dijadikan pegangan di dalam beribadat dan mengingat Allah seperti shalat ataupun berdzikir. Yaitu sembahlah AKU-nya dan AKU (Dzat) mengenalkan dirinya bernama ALLAH.
AKU inilah yang tidak laki-laki tidak perempuan dan tidak bisa di serupakan dengan makhluknya. Kepada AKU atau Dzatnya kita diperintahkan untuk menyembah dan bergantung, bukan kepada Nur-Nya.

Setelah kita mengambil perbandingan dari para ulama yang masyhur, maka kita bisa mengerti, ternyata tidaklah mudah kita memberikan penafsiran mengenai Al Qur’an yang mengandung banyak kalimat-kalimat majaz dan mutasyabihat. Untuk itu kita semestinya belajar terbuka agar bisa menerima masukan yang baik untuk dijadikan acuan kita berfikir. Dan tidak mudah menutup diri dari pendapat orang lain.

Barang kali kitanya yang kurang mampu mencerna kalimat yang sulit atau kurangnya informasi mengenai ilmu yang lainnya, sehingga kita tidak bisa memberikan gambaran yang tepat atau paling tidak mendekati tepat.

Demikianlah uraian saya mengenai Tafsir QS An Nur, mudah-mudahan kita mampu mengambil hikmahnya. Kalau kita masih belum puas dengan satu tafsir, insya Allah saya bersedia menterjemahkan tafsir-tafsir lainnya seperti pada tafsir Jalalain, Al Maraghi, Fi Dzhilalil Qur’an, Al Munir, Tafsir Ibnu Abbas dll. Kitab-kitab tersebut merupakan acuan yang mampu diterima oleh seluruh kalangan. Insya Allah

Wassalamualaikum Wr, Wb, dari bapak Abu..